Pernikahan merupakan persoalan yang tak hanya menyangkut tabiat maupun hajat hidup setiap insan, tetapi juga merupakan lembaga luhur bernama rumah tangga yang akan dipertanggung jawabkan hingga akhirat. Pernikahan Islam juga menjadi benteng pertahanan martabat, syahwat dan memiliki nilai-nilai akhlaq mulia.

Pernikahan bukan persoalan sepele. Aqad nikah pernikahan sebagai perjanjian mitsaqon gholidhoo (kokoh dan suci). Karena itu, sangat dianjurkan suami istri memelihara serta menjaga pernikahan dengan sunguh-sungguh sekaligus penuh rasa tanggung jawab.

Ajaran Islam sudah memberi petunjuk lengkap terkait soal pernikahan. Mengenai hal memilih pasangan, perihal khitbah (peminangan), perihal tanggung jawab dan hak suami istri, perihal mendidik anak, perihal jalan keluar bila terjadi kemelut rumah tangga, hingga perihal proses nafkah, harta dan warisan.

Pernikahan adalah fitrah/naluri kemanusiaan (gharizah insaniyah). Bila gharizah tidak dipenuhi melalui jalan yang lurus dan sah dengan pernikahan, maka jalan-jalan syetan banyak yang menjerumuskan.

Dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu bahwa ia telah mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ اْلإِيْمَانِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِى.

“Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. [HR. Thabrani dan Hakim]

Tujuan mulia pernikahan Islam

Terdapat tujuan mulia dalam pernikahan di dalam ajaran Islam, antara lain :

Memenuhi kebutuhan alami manusia

Memenuhi fitrah manusia tentunya wajib melalui jalan lurus dan sah, maka jalan itu yakni aqad nikah dan membentuk rumah tangga. Bukan cara sesat, misalnya berpacaran, melacur, kumpul kebo dan cara lain yang menyimpang dari ajaran Islam.

Membentengi ahklaq

Pernikahan Islam juga bertujuan untuk membentengi akhlaq dari maksiat yang menurunkan martabat luhur manusia. Islam memandang pernikahan sebagai sarana yang efefktif guna memelihara laki-laki dan perempuan baligh. Menjaga mata, telinga dan kemaluan mereka dari maksiat. Pernikahan sesuai syariat Islam juga mencegah dari kerusakan seperti homo dan lesbi. Hal ini juga melindungi masyarakat umum dari kekacauan moral.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi].

Menegakkan lembaga rumah tangga berlandaskan syariat Islam

Tujuan luhur lainnya dalam pernikahan Islam yaitu agar pasangan suami istri menegakan syari’at Islam pada rumah tangganya. Meneruskan ajaran Islam hingga mendarah daging pada anak cucu hingga generasi selanjutnya dan melestarikan eksistensi umat muslim di dunia. Menegakan rumah tangga berlandaskan syari’at Islam merupakan kewajiban setiap muslim.

Membentuk generasi muslim berkualitas, yaitu sholeh/sholehah dan bertaqwa. Oleh sebab itu, pasangan suami istri mengemban tanggung jawab untuk mendidik, mengajar, serta mengarahkan anak-anak ke jalan lurus sesuai ajaran Islam yang berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah.

Ladang ibadah

Dari sudut pernikahan Islam, rumah tangga merupakan salah satu ladangnya ibadah bagi dan beramal shalih selain ibadah dan amal-amal lainnya. Bahkan di dalam rumah tangga Islami, menyetubuhi istri juga menjadi ibadah (sedekah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah !. Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya : “Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab : “Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? “Jawab para shahabat :”Ya, benar”. Beliau bersabda lagi : “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala !”. [Hadits Shahih, HR. Muslim 3:82, HR. Ahmad 5:1167-168 dan HR. Nasa’i].

Memilih calon pasangan

Untuk mencapai tujuan mulia pernikahan Islam, sebelum memutuskan berumah tangga, ajaran Islam sudah menyampaikan beberapa kriteria calon pasangan ideal yaitu harus sholeh atau sholehah dan kafa’ah (kufu’) dalam berIslam.

Kafa’ah atau sekufu yang artinya memiliki kesamaan, kesepadanan maupun sederajat berdasarkan ajaran Islam bukan sekedar mengedepankan materialisme, status sosial maupun keturunan sebagaimana yang telah menimpa banyak orang tua di zaman ini. Sedangkan pertimbangan agama sangat kurang mendapatkan perhatian. Kufu’ di zaman ini cenderung hanya diukur dengan materi.

Kafa’ah atau kufu’ dalam pernikahan Islam, seharusnya yang utama diukur berdasarkan kualitas keimanan, ketaqwaan dan akhlaq seseorang. Sedangkan tentang besaran materi yang dimiliki, status sosial, jabatan, keturunan, penampilan fisik dan lain-lainnya merupakan pertimbangan selanjutnya. Setiap muslim dan muslimah penting untuk memahami bahwa Allah memandang setiap manusia sederajat. Yang membedakan manusia hanyalah ketaqwaannya kepada Allah.

Selain sekufu’, memilih calon pasangan dalam pernikahan Islam juga seharusnya yang sholeh atau sholehah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Wanita dinikahi karena 4 hal yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu memilih karena agamanya (ke-Islamannya). Sebab bila tidak demikian, niscaya kamu akan celaka”. [Hadits Shahih HR. Bukhari 6:123, HR. Muslim 4:175]

Menurut Al-Qur’an ciri wanita sholehah sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. An-Nisaa ayat 34, “Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara (mereka)”.

Selain itu ciri lainnya wanita sholehah dalam pernikahan Islam, tentunya meneladani Rasulullah dan para sahabatnya, menutup aurat secara syar’i, patuh kepada orangtua dan suami dalam kebaikan, tidak tabarruj (berdandan menyerupai wanita jahiliyah), tidak berduan dengan laki-laki yang bukan mahram.