AuthorLarry Day

Pernikahan dalam Islam yang Harus Kamu Ketahui

Pernikahan merupakan persoalan yang tak hanya menyangkut tabiat maupun hajat hidup setiap insan, tetapi juga merupakan lembaga luhur bernama rumah tangga yang akan dipertanggung jawabkan hingga akhirat. Pernikahan Islam juga menjadi benteng pertahanan martabat, syahwat dan memiliki nilai-nilai akhlaq mulia.

Pernikahan bukan persoalan sepele. Aqad nikah pernikahan sebagai perjanjian mitsaqon gholidhoo (kokoh dan suci). Karena itu, sangat dianjurkan suami istri memelihara serta menjaga pernikahan dengan sunguh-sungguh sekaligus penuh rasa tanggung jawab.

Ajaran Islam sudah memberi petunjuk lengkap terkait soal pernikahan. Mengenai hal memilih pasangan, perihal khitbah (peminangan), perihal tanggung jawab dan hak suami istri, perihal mendidik anak, perihal jalan keluar bila terjadi kemelut rumah tangga, hingga perihal proses nafkah, harta dan warisan.

Pernikahan adalah fitrah/naluri kemanusiaan (gharizah insaniyah). Bila gharizah tidak dipenuhi melalui jalan yang lurus dan sah dengan pernikahan, maka jalan-jalan syetan banyak yang menjerumuskan.

Dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu bahwa ia telah mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ اْلإِيْمَانِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِى.

“Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. [HR. Thabrani dan Hakim]

Tujuan mulia pernikahan Islam

Terdapat tujuan mulia dalam pernikahan di dalam ajaran Islam, antara lain :

Memenuhi kebutuhan alami manusia

Memenuhi fitrah manusia tentunya wajib melalui jalan lurus dan sah, maka jalan itu yakni aqad nikah dan membentuk rumah tangga. Bukan cara sesat, misalnya berpacaran, melacur, kumpul kebo dan cara lain yang menyimpang dari ajaran Islam.

Membentengi ahklaq

Pernikahan Islam juga bertujuan untuk membentengi akhlaq dari maksiat yang menurunkan martabat luhur manusia. Islam memandang pernikahan sebagai sarana yang efefktif guna memelihara laki-laki dan perempuan baligh. Menjaga mata, telinga dan kemaluan mereka dari maksiat. Pernikahan sesuai syariat Islam juga mencegah dari kerusakan seperti homo dan lesbi. Hal ini juga melindungi masyarakat umum dari kekacauan moral.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi].

Menegakkan lembaga rumah tangga berlandaskan syariat Islam

Tujuan luhur lainnya dalam pernikahan Islam yaitu agar pasangan suami istri menegakan syari’at Islam pada rumah tangganya. Meneruskan ajaran Islam hingga mendarah daging pada anak cucu hingga generasi selanjutnya dan melestarikan eksistensi umat muslim di dunia. Menegakan rumah tangga berlandaskan syari’at Islam merupakan kewajiban setiap muslim.

Membentuk generasi muslim berkualitas, yaitu sholeh/sholehah dan bertaqwa. Oleh sebab itu, pasangan suami istri mengemban tanggung jawab untuk mendidik, mengajar, serta mengarahkan anak-anak ke jalan lurus sesuai ajaran Islam yang berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah.

Ladang ibadah

Dari sudut pernikahan Islam, rumah tangga merupakan salah satu ladangnya ibadah bagi dan beramal shalih selain ibadah dan amal-amal lainnya. Bahkan di dalam rumah tangga Islami, menyetubuhi istri juga menjadi ibadah (sedekah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah !. Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya : “Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab : “Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? “Jawab para shahabat :”Ya, benar”. Beliau bersabda lagi : “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala !”. [Hadits Shahih, HR. Muslim 3:82, HR. Ahmad 5:1167-168 dan HR. Nasa’i].

Memilih calon pasangan

Untuk mencapai tujuan mulia pernikahan Islam, sebelum memutuskan berumah tangga, ajaran Islam sudah menyampaikan beberapa kriteria calon pasangan ideal yaitu harus sholeh atau sholehah dan kafa’ah (kufu’) dalam berIslam.

Kafa’ah atau sekufu yang artinya memiliki kesamaan, kesepadanan maupun sederajat berdasarkan ajaran Islam bukan sekedar mengedepankan materialisme, status sosial maupun keturunan sebagaimana yang telah menimpa banyak orang tua di zaman ini. Sedangkan pertimbangan agama sangat kurang mendapatkan perhatian. Kufu’ di zaman ini cenderung hanya diukur dengan materi.

Kafa’ah atau kufu’ dalam pernikahan Islam, seharusnya yang utama diukur berdasarkan kualitas keimanan, ketaqwaan dan akhlaq seseorang. Sedangkan tentang besaran materi yang dimiliki, status sosial, jabatan, keturunan, penampilan fisik dan lain-lainnya merupakan pertimbangan selanjutnya. Setiap muslim dan muslimah penting untuk memahami bahwa Allah memandang setiap manusia sederajat. Yang membedakan manusia hanyalah ketaqwaannya kepada Allah.

Selain sekufu’, memilih calon pasangan dalam pernikahan Islam juga seharusnya yang sholeh atau sholehah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Wanita dinikahi karena 4 hal yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu memilih karena agamanya (ke-Islamannya). Sebab bila tidak demikian, niscaya kamu akan celaka”. [Hadits Shahih HR. Bukhari 6:123, HR. Muslim 4:175]

Menurut Al-Qur’an ciri wanita sholehah sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. An-Nisaa ayat 34, “Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara (mereka)”.

Selain itu ciri lainnya wanita sholehah dalam pernikahan Islam, tentunya meneladani Rasulullah dan para sahabatnya, menutup aurat secara syar’i, patuh kepada orangtua dan suami dalam kebaikan, tidak tabarruj (berdandan menyerupai wanita jahiliyah), tidak berduan dengan laki-laki yang bukan mahram.

5 Kerajaan Islam yang Cukup Berpengaruh di Indonesia

Sejarah bangsa Indonesia tidak bisa lepas dari Islam. Sejak awal masuknya, masyarakat Indonesia cukup mudah menerima ajaran Islam. Para pedagang muslim dari Arab, Persia dan India sangat mempengaruhi masuknya Islam ke Indonesia. Seiring perkembangannya di Indonesia, terdapat cukup banyak kerajaan berlandaskan Islam. Namun ada 5 kerajaan Islam yang dianggap berpengaruh dan berjaya di beberapa wilayah Indonesia.

Kerajaan Samudera Pasai

Nizamuddin Al Kamil mendirikan kerajaan Islam ini di tahun 1267. Nizamuddin Al Kamil adalah seorang pemimpin angkatan laut Mesir. Samudera Pasai berpusat di sekitar pesisir pantai Sumatera bagian utara dekat Lhokseumawe. Setelah wafatnya pendiri Samudera Pasai, kerajaan ini dipimpin raja-raja penerusnya yang memberi pengaruh cukup besar terhadap masyarakat, termasuk kepada kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya.

Meurah Silu yang bergelar Sultan Malik Al-Saleh, menjadi raja Samudera Pasai periode pertama di tahun 1267 hingga 1297. Pada masa pemerintahannya, Samudera Pasai berjaya menguasai kawasan Selat Malaka. Kala itu Selat Malaka merupakan pusat perniagaan internasional. Komoditas ekspor paling utama Samudera Pasai adalah lada. Selain itu, kapur barus dan sutra juga menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan kerajaan Samudera Pasai.

Kepemimpinan Samudera Pasai dipegang oleh Sultan Muhammad Malik Az-Zahir setelah wafatnya Sultan Malik Al-Saleh. Raja Samudera Pasai periode kedua tahun 1297 hingga 1326 ini, merupakan anak dari Sultan Malik Al-Saleh. Di masa Sultan Muhammad Malik Az-Zahir, kerajaan Perlak yang merupakan kerajaan Islam tertua di Indonesia akhirnya berada dalam kekuasaan Samudera Pasai.

Pada masa pemerintahan periode kedua ini, koin emas diperkenalkan kepada masyarakat sebagai alat pembayaran (mata uang) dalam perdagangan. Mata uang berupa koin emas tersebut berdiameter 10 mm dengan berat 0,6 gram. Pada satu sisi koin, terdapat nama raja yakni Muhammad Malik Al-Zahir. Sedangkan di sisi lainnya terdapat tulisan “Al-Sultan al-adil”, artinya sultan harus berlaku adil terhadap masyarakatnya.

Pada periode ketiga tahun 1326 hingga 1345, Samudera Pasai dipimpin oleh Sultan Mahmud Malik Az-Zahir. Saat masa pemerintahannya, Samudera Pasai tersohor sebagai sebuah kerajaan dagang. Banyak pedagang Cina dan India yang membeli lada dan rempah-rempah lainnya.

Selama kejayaannya, Samudera Pasai menjadikan lada sebagai yang utama dalam ekspornya, sebab lada sangat diminati masyarakat dari seluruh dunia terutama Eropa. Di masa jayanya tak hanya terkenal sebagai kerajaan dagang, Samudera Pasai juga terkenal sebagai kerajaan maritim. Tahun 1414, Kaisar Yonglee dari Cina pernah mengirimkan hadiah persabahatan berupa Lonceng Cakra Donya untuk Raja Samudera Pasai. Laksamana Cheng Ho menjadi orang utusan untuk mengirimkan hadiah tersebut.

Tak selamanya kejayaan dapat digenggam, tahun 1521 Samudera Pasai dipimpin Sultan Zain Al-Abidin. Di periode itu, Portugis iri terhadap kejayaan Samudera Pasai dan melakukan penyerangan hingga akhirnya Portugis berhasil menaklukkan Samudera Pasai.

Dalam keadaan lemah, kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Ali Mughayat Syah memanfaatkan kondisi dan mengambil alih Samudera Pasai. Tahun 1524, Samudra Pasai masuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam. Lonceng Cakra Donya milik Samudera Pasai dipindahkan ke Aceh Darussalam.

Kerajaan Ternate

Dikenal pula dengan nama Kerajaan Gapi. Kerajaan ini menjadi salah satu yang tertua di kawasan Nusantara. Tahun 1257, Baab Mashur Malamo tercatat dalam sejarah sebagai pendiri Kerajaan Ternate. Kerajaan Islam ini berperan penting di wilayah timur Nusantara. Pengaruhnya tersebar di masyarakat sekitar abad 13 hingga abad 17. Kegemilangan militer dan perdagangan rempah-rempahnya mencolok di abad 16.

Berdasarkan geografis, letak Kerajaan ternate berada di kawasan Kepulauan Maluku yang strategis dalam pasaran wilayah timur di masa itu. Kepulauan maluku menjadi penghasil rempah-rempah paling besar dan mendapat julukan “The Spicy Island”. Masa jayanya Kerajaan ternate berhasil mencakup kawasan Maluku, Sulawesi utara, Sulawesi tengah, Sulawesi timur dan selatan wilayah Filipina sampai Kepulauan Marshall Pasifik. Bersamaan dengan jayanya Kerajaan Ternate, agama Islam pun tersebar luas.

Kerajaan Malaka

Di masa jayanya yakni di bawah kekuasaan Sultan Mansyur Syah tahun 1459 hingga 1477, kerajaan Islam Malaka menjadi pusat perdagangan sekaligus penyebaran ajaran Islam di kawasan Asia Tenggara. Dari Malaka, agama Islam tersebar ke tanah Jawa, Brunei, Kalimantan Barat, dan Filipina Selatan. Dalam masa jayanya, kerajaan Malaka memiliki kontrol atas kawasan semenanjung Melayu meliputi : Patani, Kelantan, Trenggano, Ligor dan sebagainya.

Selain itu Kepulauan Riau, Brunai, Serawak, Kalimantan Barat, dan Pesisir Timur Pulau Sumatra juga di bawah kontrol kerajaan Malaka. Terdapat pula daerah yang didapatkan dari Majapahit melalui jalan diplomasi, diantaranya : Indragiri, Palembang, Tambelan, Siantan, Pulau Jemaja dan Bunguran.

Awal berdirinya kerajaan Malaka, bukanlah berlandaskan Islam. Namun raja pertama yakni Prameswara akhirnya memutuskan memeluk Islam. Prameswara mengganti namanya menjadi Iskandar Syah. Seiring dengan mualafnya sang raja, maka Islam menjadi agama yang resmi di kawasan Kerajaan Malaka dan berpengaruh besar bagi rakyatnya yang akhirnya ikut memeluk Islam. Runtuhnya kerajaan Islam Malaka karena serangan Portugis menjelang akhir tahun 1511 yang dipimpin Alfonso de Albuquerque.

Kerajaan Demak

Merosotnya kekuatan kerajaan Majapahit menjadi peluang bagi Islam untuk tumbuh dan berkembang di tanah Jawa. Tahun 1478 atas kesepakatan Wali Songo, Raden Patah dinobatkan sebagai raja di Kerajaan Demak. Kerajaan ini merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Raden Patah merupakan anak raja Majapahit. Ibunya beragama Islam dari keturunan Campa.

Pengaruh Raden Patah dalam penyebaran ajaran Islam Wali Songo cukup besar. Setelah wafatnya, tahta raja dipegang oleh anaknya yakni Pangeran Sabrang Lor (Adipati Unus). Namun hanya 3 tahun, tahta raja berganti pada Sultan Trenggono atas lantikan Sunan Gunung Jati. Di masa jayanya, Demak menjadi pusat Islam Jawa bahkan berkembang sampai Kalimantan Selatan. Namun konflik internal kerajaan tak bisa dibendung hingga runtuhlah kerajaan Demak.

Kerajaan Gowa

Tahun 1320, Tumanurung Bainea menjadi raja pertama kerajaan Gowa. Kerajaan ini terwujud karena persetujuan dari 9 kelompok kaum (Kasuwiyang). Di masa raja Karaeng Tumapa’risi Kallonna, Kerajaan Gowa hampir menguasai seluruh kawasan Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa termasuk dalam salah satu kerajaan tertua di Nusantara, dan mampu bertahan lama. Tahun 1957 Gowa masuk dalam wadah NKRI dan menjadi daerah Tingkat II.

Pada awalnya, kerajaan Gowa bukan berlandaskan ajaran Islam. Namun tahun 1605, Dato Ribandang dikenal sebagai tokoh dakwah Islam di wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa. Tahun 1605, Raja I Mangerangi Daeng Manrabia tergerak hatinya untuk memeluk agama Islam, kemudian bergelar Sultan Alauddin. Sejak itu, Gowa menjadi kerajaan Islam di nusantara.

Di masa raja ke XVI yang bergelar “Ayam Jantan dari Timur”, yakni I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Muhammad Bakir Sultan Hasanuddin, Kerajaan Gowa menjadi kerajaan Islam yang memiliki armada perang laut tangguh. Di masa itu, kerajaan Gowa menhadi yang terkuat di wilayah timur nusantara.

Kerajaan Gowa termasuk dalam salah satu kerajaan tertua di Nusantara, dan mampu bertahan lama. Tahun 1957 Gowa masuk dalam wadah NKRI dan menjadi daerah Tingkat II.

5 Rukun Islam dan Penjelasannya yang Wajib Diketahui

Agama Islam ini dibangun di atas 5 rukun Islam yang telah dijelaskan oleh Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam dalam hadits riwayat sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الْإِسْلَامَ بُنِيَ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ

“Sesungguhnya Islam dibangun di atas 5 (tonggak rukun Islam) : Syahadatain Laa ilaaha illa Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, puasa Ramadhan; dan hajji ke Baitullah’” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim)

Syahadatain

Rukun Islam ke-1 yakni syahadatain (2 kalimat syahadat) yakni kesaksian bahwa tak ada ilah yang berhak disembah/diibadahi dengan benar terkecuali Allâh Azza wa Jalla saja. Dan kesaksian bahwasanya Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah hamba sekaligus Rasul-Nya.

Dalam rukun Islam, syahadatain menjadi yang teragung dan tertinggi kedudukannya. Oleh sebab itu, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan kalimat persaksian ini di dalam sabdanya. Kalimat tauhid dalam syahadatain bukanlah sekedar kalimat biasa sebab mengandung makna sangat agung.

Seorang hamba belum dikatakan bertauhid bila tidak melaksanakan arti dalam rukun islam ke-1 ini (kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ) dengan meniadakan sesembahan selain kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta melaksanakan ibadah hanya untuk Allah. Dengan cara berdo’a hanya kepada Allah, bertawakal hanya kepada Allah, menyembelih kurban hanya untuk Allah, bernadzar hanya untuk Allah, melaksanakan sholat ikhlas karena Allah dan tidak melaksanakan ibadah apapun kecuali hanya untuk Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Tak sekedar itu, kesaksian bahwa Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan utusan Allah berarti meneladani beliau dan melaksanakan ajaran islam sesuai dengan tuntunan yang diajarkan beliau. Meneladani dalam hal ibadah kepada Allah maupun dalam hal muamalah.

Sholat

Rukun Islam ke-2 yakni menegakkan sholat 5 waktu. Bahkan sholat 5 waktu menjadi pembeda antara orang beriman dan tak beriman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang memisahkan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim). Sebab itu setiap muslim sepatutnya memperhatikan sholatnya.

Menegakkan sholat merupakan kewajiban bagi setiap orang yang mengaku muslim terkhususkan bagi yang berakal dan sudah baligh. Adapun muslim yang kehilangan kesadarannya (pikun, gila, maupun mengalami gangguan kesehatan yang menghilangkan kesadaran), maka tidak wajib menegakkan sholat.

Hal itu berdasarkan hadits shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pena diangkat dari tiga golongan, dari orang yang tidur sampai dia bangun, dari anak kecil sampai dia mimpi dan dari orang gila sampai dia sembuh.” (HR. Abu Daud dalam Shohih Jami’us Shaghir 3513).

Walau demikian, walinya anak kecil muslim wajib mengajarkan, memerintahkan dan membiasakan anak agar menegakkan sholat wajib 5 waktu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkanlah anak kalian yang sudah berumur tujuh tahun untuk mengerjakan sholat, dan pukullah mereka agar mereka mau mengerjakan sholat saat mereka berumur 10 tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud dalam Shahih Jami’us Shaghir 5868)

Zakat

Menunaikan zakat menjadi rukun Islam ke-3. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang diberikan harta oleh Allah namun dia tidak menunaikan zakatnya, pada hari kiamat dia akan menghadapi ular jantan yang banyak bisanya dan memiliki dua taring yang akan mengalunginya pada hari kiamat. Kemudian ular tersebut menggigit dua mulutnya, kemudian berkata, “aku adalah harta simpananmu, aku adalah hartamu.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

َمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Puasa Ramadhan

Berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan menjadi rukun islam ke-4. Puasa untuk menahan diri dari makan, minum, berhubungan intim dan segala hal yang membatalkan puasa. Puasa wajib Ramadhan dimulai sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari. Allah ta’ala berfirman dalam Al Qur’an Al Baqarah ayat 83-185 :

َا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.

Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan , maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Haji

Menunaikan haji bila mampu, setidaknya sekali dalam seumur hidup, menjadi rukun islam ke-5. Dalam QS. Ali Imran ayat 97, Allah ta’ala berfirman,

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِي

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”

Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi memberikan penjelasan mengenai kemampuan dalam menunaikan rukun islam ke-5 ini :

Pertama, mampu dalam hal kesehatan. Hal ini berdasarkan hadits shahih dari ibnu Abbas yang mengetahui ada wanita dari Ja’tsam datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah sesungguhnya ayahku terkena kewajiban haji ketika umurnya sudah tua dan ia tidak mampu menaiki tunggangannya, apakah aku boleh berhaji untuknya?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berhajilah untuknya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Kedua, mampu dalam hal memiliki bekal perjalanan pergi dan pulang haji. Termasuk bekal untuk memenuhi kebutuhan keluarga maupun orang-orang yang masuk dalam kewajibannya menafkahi. Sebab hal ini terkait dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Cukuplah seorang disebut sebagai pendosa jika dia menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi.” (HR. Abu Daud)

Ketiga, mampu dalam hal keamanan melakukan perjalanan. Sebab menunaikan rukun islam ke-5 ini, bila dalam kondisi tak aman menjadi salah satu halangan yang disyariatkan.

Teori Masuknya Islam ke Indonesia

Sebelum menjadi keyakinan atau agama yang sangat banyak penganutnya di Indonesia, agama islam merupakan agama yang berdasarkan perkiraan para sejarawan datang dikarenakan adanya pedagang antar negara yang singgah dan bertransaksi jual beli di Nusantara. Lalu, bagaimanakah awal mula masuknya Islam ke wilayah Nusantara? Agar lebih jelas, berikut ini sedikit penjelasan mengenai 4 teori masuknya islam ke Indonesia.

4 Teori Masuknya Islam ke Indonesia

  • Teori Gujarat

Teori masuknya islam ke Indonesia ini memiliki anggapan bahwa ajaran serta kebudayaan Islam telah dibawa oleh saudagar atau para pedagang yang berasal dari wilayah Gujarat, India. Mereka dahulu berlayar melalui selat Malaka. Dijelaskan dalam teori Gujarat ini bahwa kedatangan agama Islam di Nusantara kira-kira abad ke-13, melalui para pedagang serta pengaruh kekuasaan kerajaan Samudera Pasai.

Di masa itu, Samudera Pasai menguasai kawasan selat Malaka. Hal ini diperkuat pula dengan adanya penemuan makam tokoh terkemuka yang memiliki corak Gujarat, yakni Sultan Samudera Pasai yang bernama Malik As-Saleh (Wafat tahun 1297). Teori Gujarat ini dikemukakan J. Pijnapel dan S. Hurgronje.

  • Teori Persia

Teori masuknya islam ke Indonesia ini menurut Hoesein Djadjadiningrat dan Umar Amir Husen berpendapat bahwa agama Islam masuk di Nusantara melalui pedagang yang datang dari Persia dan bukanlah dari Gujarat. Negeri Persia merupakan sebuah kerajaan di masa lalu, yang kini kemungkinan besarnya berada di Negara Iran dan Irak.

Teori Persia ini tercetus sebab pada awal masuk agama Islam ke Nusantara, cenderung pada ajaran islam Syiah dan Persia menjadi negeri cikal bakalnya ajaran Syiah. Tercatat pula dalam sejarah islam bahwa kerajaan Perlak yang merupakan kerajaan islam pertama di Nusantara, pendirinya adalah seorang penganut ajaran Syiah.

Selain itu, dalam kehidupan masyarakatnya, terdapat beberapa tradisi yang sama antara Persia dengan Indonesia. Hal ini dianggap sebagai suatu penguat, contohnya yakni di beberapa daerah Indonesia hingga kini ada tradisi peringatan hari karbala setiap tanggal 10 Muharam. Masyarakat Jambi dan Sumatera Barat biasa menyebut peringatan hari karbala dengan nama upacara Tabuik atau Tabut.

  • Teori China

Berbeda lagi dengan teori masuknya islam ke Indonesia menurut Sumanto Al Qurtuby dan Slamet Mulyana. Mereka mengungkapkan pendapat bahwa kebudayaan Islam sebenarnya masuk ke wilayah Nusantara melalui perantaraan masyarakat dan pedagang muslim yang berasal dari China.

Pada teori ini diungkapkan bahwa dahulu ada migrasi masyarakat Tiongkok muslim dari Kanton. Migrasi tersebut khususnya menuju daerah Palembang di abad ke-9. Hal ini menjadi permulaan masuknya agama dan kebudayaan Islam di Nusantara. Teori ini dikuatkan pula dengan terdapat bukti sejarah bahwa Raja Demak yakni Raden Patah merupakan keturunan China.

Banyak bukti sejarah ditemukan bahwa gelar para raja-raja Demak ditulis dengan istilah Tiongkok. Selain itu, ada pula catatan sejarah yang menyebut bahwa para pedagang asal negeri tirai bambu yang pertama singgah di pelabuhan-pelabuhan sekitar Nusantara bagian barat.

  • Teori Mekah

Di dalam teori masuknya islam ke Indonesia ini diungkapkan bahwa agama Islam di wilayah nusantara dibawa secara langsung oleh musafir yang berasal dari negeri Arab yang mempunyai semangat tinggi untuk menyebarkan agama Islam ke penjuru dunia di abad ke-7. Teori ini mengambil penguatan dari ditemukannya sebuah perkampungan masyarakat Arab di daerah Barus, provinsi Sumatera Utara. Kini kawasan perkampungan Arab tersebut lebih dikenal dengan sebutan Bandar Khalifah.

Tidak hanya itu, Kerajaan Samudera Pasai yang pernah sangat berjaya dan kuat, ternyata masyarakatnya dominan menganut mahzab Syafi’i yang tersohor. Mahzab ini terkenal dan banyak dipegang oleh masyarakat Mesir dan Arab di zaman itu.

Kemudian penguat lainnya mengenai teori masuknya islam ke Indonesia ini yakni digunakannya gelar berupa “Al-Malik” bagi setiap raja-raja di Kerajaan Samudera Pasai. Hal itu seperti budaya masyarakat Islam di kawasan Mesir. Teori ini banyak mendapatkan dukungan dari para tokoh ahli sejarah diantaranya Van Leur, T.W Arnold, Buya Hamka dan Anthony H. Johns.

Agama Islam pernah juga menjadi kekuatan dan pengaruh yang disegani di wilayah Nusantara di masa lalu, hal ini dapat dilihat dengan kemunculan kerajaan-kerajaan Islam besar dan berkuasa, bahkan kerajaan Tiongkok pun pernah mengirimkan hadiah untuk Raja Samudera Pasai dan mengutus Laksamana Cheng Ho dalam rangka persahabatan dan kerjasama dagang.

Terlepas dari berbagai teori masuknya islam ke Indonesia di atas, agama samawi ini membawa pengaruh besar mulai dari masa penyebaran awalnya, menghadapi masa penjajah Eropa hingga kini seluruh wilayah nusantara berada dalam satu kesatuan NKRI.